Kamis, 16 Juni 2011

H. HADI SUPENO

Panggilan akrabnya di masa kecil Peno, di masa tua banyak juga yang memanggil Hadi. Baginya dipanggil Peno atau Hadi tidak mempersoalkan karena semua berarti kebaikan: Hadi berarti adi atau edi yang berarti indah atau baik, atau juga berarti petunjuk, sedangkan Supeno, berarti impian, atau cita-cita, atau visi, yang arti keseluruhannya orang yang memiliki visi atau cara pandang yang baik, atau orang yang memperoleh petunjuk pada jalan kebaikan, begitulah harapan orang tuanya. Ia lahir di dusun Linggamerta, desa Linggasari, Kecamatan Wanadadi tanggal 14 April 1959, dari pasangan H Radija Dwidjosiswojo dan Bunda Sukesi.
Karena mengikuti tugas orangng tuanya sebagai guru Sekolah Dasar, maka masa kanak-kanak hingga remaja dilewati dengan hidup berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain. Akibatnya Peno kanak-kanak pernah tinggal di desa Sipedang, desa Sigeblog, desa Beji, dan desa Majatengah kecamatan Banjarmangu. Tak pelak bila ia sangat akrab dengan kehidupan desa dengan segala keindahan alamnya dan seluk beluk kedesaannya; dari keelokan Dieng dan panorama lembah Pekacangan, hangatnya kabut Pawinihan, asyiknya menggembala kerbau kadang ikut mluku dan nggaru sawah, sambil menikmati cemilan ondhol dan gejos serta menu makanan nasi jagung sayur lumbu lauk juwi gesek.
Tentu saja sebagai anak desa ia sangat akrab dengan aneka kesenian tradisional dari wayang kulit, seni kerawitan, embeg, rodad,cowongan, nini thowok, paksimoi, kuntulan, lengger, samroh, terbangan, selawatan, dan sebagainya. Di masa remaja beberapa kali mengikuti lomba paduan suara dan vocal group di bawah asuhan guru musik SPGN Banjarnegara, Bapak Supangat.
Tamat SDN Beji tahun 1972 sebagai lulusan terbaik tingkat rayon Pekandangan. Meneruskan ke SMP Persiapan Banjarmangu di Banjarkulon, yang berjarak 12 km dari tempat tinggalnya di Majatengah, dan ditempuh dengan berjalan kaki tanpa sepatu, subuh berangkat, ba’da asar sampai di rumah. Tamat SMP sebagai lulusan terbaik kemudian melanjutkan ke SPG Negeri Banjarnegara yang mengantarkannya menjadi Ketua OSIS pada tahun 1978 dan 1979. Saat bersekolah di SPGN inilah, ia nyaris menjadi korban dari kebrutalan preman karena sikapnya yang melawan perjudian dan prostitusi di lingkungan sekolahnya. Selepas SPG ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Negeri Yogyakarta dengan aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra kurikuler. Pendidikan Pasca Sarjana ditempuh di Magister Administrasi Publik Universitas Gajah Mada Yogyakarta, tahun 2001. Tahun 2008, memperoleh kesempatan untuk menempuh pendidikan kepemimpinan paling bergengsi di Indonesia yakni Program Pendidikan Reguler Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Angkatan XLII.
Pendidikan informal di antaranya pernah kursus singkat perburuhan/ketenagakerjaan di Geneva Swiss (1994), studi strategis pemerintahan Jepang (2008), dan belajar tentang model peradilan anak di Malaysia (2010). Tahun 2008 juga memimpin delegasi Indonesia dalam Festival Teater Anak di Moscow dan kota-kota lain di Eropa Timur.
Hadi Supeno belajar agama Islam nonformal dari Ustad kampung seperti Eyang Ibrahim dan Kiai Mujamil di Beji, Imam Wiryasentana di Majatengah, H Ngatikfurrohman Banjarmangu, H Hambali Merden, sampai pimpinan pondok Pesantren Pabelan Magelang KH Hamam Dja’far. Ia juga nyantri pada KH Habib Lutfi bin Yahya, Noyantakan, Pekalongan. Dari para guru agama itulah yang melahirkan dirinya sebagai seorang nasionalis religiuus, humanis, serta berjiwa kerakyatan.
Riwayat pekerjaan dimulai dengan menjadi guru SD di Kalasan Yogyakarta tahun 1980, sambil menjadi penulis free lance di berbagai surat kabar di Indonesia. Setamat kuliah di IKIP 1985, Hadi Supeno bekerja di Universitas Muhammadiyah Magelang, sambil menjadi guru SPG Muhammadiyah Borobudur, dan Kepala SMA Muhammadiyah Grabag, Magelang. Tahun 1995 menjadi pejabat birokrasi di Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang dengan jabatan terakhir sebagai Kasubag Penyusuanan Rencana dan Program (PRP). Di era otonomi daerah, ia menjabat sebagai Kepala Sub Dinas SLTP-SLTA Kabupaten Magelang. Tahun 2001 terpilih sebagai Wakil Bupati Banjarnegara mendampingi Bapak Drs Ir H Djasri, ST, MM sebagai Bupati periode 2001-2006. Tahun 2007-2010 diangkat oleh Presiden sebagai komisioner lembaga Negara independen Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dengan jabatan terakhir sebagai Ketua.
Dalam organisasi kemasyarakatan dia pernah memimpin beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Jogjakarta, Magelang, dan Jakarta di antaranya sebagai Sekretaris Lingkaran Studi Pendidikan Yogyakarta (LSPY), Pendiri Yayasan Wahana Pengkajian Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan (WP2PK), dan Institut Stdi Anak Indonesia (ISAI). Dalam gerakan koperasi ia pernah memimpin Koperasi Guru se Kabupaten Magelang (1997-2001). Di organisasi wartawan ia pernah menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Magelang 1989-1996. Selain itu dalam kurun waktu 2001-2006 pernah pula memimpin Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Banjarnegara, Ketua Persatuan Tinju Amatir (Pertina) Kabupaten Banjarnegara, pendiri Sekolah Sepak Bola Hulu Satria Medayu, dan perintis Persatuan Masyarakat Budaya Indonesia (Permadani) Banjarnegara. Di pentas nasional di antaranya pernah melakukan pembelaan pada anak-anak Indonesia Timur yang memperoleh diskriminasi pendidikan, membela anak-anak korban kerusuhan Tanjung Priok, menjadi saksi ahli kasus pornografi yang melibatkan tersangka Ariel Paterpan, menjadi inisiator judicial review UU Pengadilan Anak, dan juga perintis gagasan sistem perlindungan anak Indonesia yang sekarang masih digodog di DPR RI.
Pada dasarnya Hadi Supeno adalah seorang pendidik dan pemimpin sehingga ia di mana-mana ia selalu menyebarkan ilmu dan mengarahkan masyarakat pada nilai-nilai yang diyakini. Maka selain menjadi guru formal, ia juga mendidik masyarakat melalui tulisan-tulisannya di berbagai media massa baik media cetak maupun on line. Ia juga menulis beberapa buku, di antaranya:
  1. Pendidikan Ditinjau Kembali, CV Noor Cahaya, Yogyakarta, 1983
  2. Mental Hygiene, LSPY, Yogyakarta, 1985
  3. Dimenasi Manusia Dalam Pemikiran Pendidikan, CV Noor Cahaya, Yogyakarta, 1984
  4. Sejarah Bank Pasar Kabupaten Magelang, PD BPR Bank Pasar Kabupaten Magelang, 1998
  5. Potret Guru, PT Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1995
  6. Agenda Reformasi Pendidikan, WP2PK, Magelang, 1999
  7. Melawan Kebudayaan Bisu, WP2PK, Magelang, 1999
  8. Pendidikan dan Kekuasaan, WP2PK, Magelang, 1999
  9. Korupsi Di Daerah, CV Total Media, Jogjakarta, 2009
  10. Kriminalisasi Anak, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010
  11. Menyelamatkan Anak, KPAI, Jakarta, 2010
  12. Dekriminalisasi Anak, KPAI, Jakarta, 2010
  13. Potret Anak Indonesia, KPAI, Jakarta, 2010
  14. Memahami Konvensi Hak-hak Anak, KPAI, 2010
  15. Persepektif Anak Dalam Penanggulangan Bencana, KPAI, Jakarta, 2010.
  16. Mewaspadai Eksploitasi Anak, KPAI, Jakarta, 2010
Semboyan hidupnya adalah: “Hidup harus bermanfaat bagi makhluk lainnya”. Prinsip politiknya: “Politik sebagai wahana untuk beribadah oleh karena itu harus dibangun melalui persaudaraan dan penuh peradaban”.
Dalam menempuh perjuangan hidupnya, Hadi Supeno didampingi seorang isteri Hj Sakinatun bin Muhammad. Sarjana Muda Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini telah memberinya 3 orang anak, masing-masing: Adam Mega Tiarawan (23), Sarah Matari (22), dan Bumi Hera Rihlatu (17).
Alamat tinggalnya di RT 04 RW 03, Kembang Widoro, Kelurahan Rejasa, Jl. Banjarnegara-Karangkobar Km2, Kecamatan Madukara 53458. Bagi warga masyarakat yang ingin berkomunikasi bisa menghubungi lewat Hand Phone Sempati : 082110 684195 atau Mentari : 0858 1448 1110. Website : www.hadisupeno.com. E-mail: hadi_pena@yahoo.co.id.


Terimakasi anda telah klik tombol suka dibawah ini, dengan anda klik tombol suka adalah bentuk dukungan anda kepada pasangan Tejo Peno (Jono). Ajak teman saudara untuk klik tombol suka pada semua halaman blog ini, Trimakasih Salam KTP (kang Tejo Peno)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar